Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, January 13, 2012

TIPS SUKSES MENDIDIK ANAK DENGAN HYPNOPARENTING | Kiat Mempraktikkan HypnoParenting

SUKSES TERAPKAN HYPNOPARENTING PADA ANAKTIPS SUKSES MENDIDIK ANAK DENGAN HYPNOPARENTING | Kiat Mempraktikkan HypnoParenting. Mendidik anak dengan metode HypnoParenting dapat dilakukan siapa saja. Mulai orangtua terhadap anak-anaknya, pendidik seperti guru kepada murid-muridnya, termasuk juga kakek-nenek, terapis, dan pengasuh atau orang dewasa yang mengasuh anak. Aplikasi HypnoParenting juga terbilang praktis dan dapat dilakukan di berbagai kesempatan di antara aktivitas anak. Baca juga JESSICA ISKANDAR SERIUS TEKUNI AGAMA BARUNYA | OLGA SYAHPUTRA AJARKAN JESSICA SHOLAT DAN BERZIKIR
"Namun memang waktu yang paling efektif menerapkan HypnoParenting dengan memberikan sugesti positif pada anak adalah saat jelang tidur ketika mata anak mulai berat namun ia belum tertidur," jelas Dr Dewi Yogo Pratomo, MHt, penulis buku HypnoParenting yang juga adalah pengajar, dosen, konsultan sumber daya manusia, di Jakarta beberapa waktu lalu. Waktu sesaat sebelum tidur ini otak anak berada dalam gelombang alpha atau theta sehingga RAS terbuka lebar dan sugesti lebih mudah ditanamkan, lanjut Dr Dewi.

Meski begitu, mengasuh dan mendidik anak dengan metode HypnoParenting dapat dilakukan pada waktu-waktu efektif berikut agar sugesti yang ditanamkan menancap dan menetap. Selain itu penggunaan alat bantu juga bisa membantu orangtua saat memberikan sugesti positif kepada anak. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memberikan sugesti positif dalam HypnoParenting:

Waktu efektif

* Saat mengajak anak berdoa, suasana relaks dan suara lirih sehingga tercipta ketenangan dan anak pun mudah terhipnosis.
* Saat anak bermain, anak biasanya fokus pada permainannya. Kondisi ini bisa Anda manfaatkan untuk menanamkan sugesti positif.
* Menggambar adalah media yang bisa digunakan untuk menghipnosis anak. Gunakan gambar sebagai awal masuk sugesti.
* Sesaat sebelum bangun tidur kondisinya mirip seperti anak jelang tidur. Perhatikan ketika di pagi hari ia mulai terbangun, menggerak-gerakkan tubuhnya, dan ada gerakan bola mata. Di balik matanya yang terpejam, suntikkan sugesti yang Anda kehendaki, saran Dr Dewi.
* Anak yang sedang makan berada dalam keadaan rileks. Selain menikmati makanan ia juga menikmati suasana di sekitarnya. Saat inilah Anda bisa memasukkan sugesti positif ke dalam pikirannya.
* Saat mendiamkan anak menangis, masukkan sugesti ke dalam pikiran anak. Pasalnya, ketika anak menangis ia berada dalam keadaan "tersakiti". Tetapi saat tangisan mereda, ia sedang menciptakan ketenangan dalam diri. Sembari menenangkan perasaan dan pikirannya, Anda bisa menghipnosis secara perlahan.
* Saat menggendong, dalam bentuk buaian, inilah waktu efektif yang dapat digunakan untuk menghipnosis anak. Anak berada dalam kondisi sangat tenang, mirip seperti ketika ia akan tertidur. Pikiran dan perasaannya juga berada dalam level terendah.
* Melalui nyanyian, Anda juga bisa menghipnosis anak. Ada banyak jenis nyanyian yang bisa digunakan untuk menghipnosis anak. Nyanyian yang lembut dan pelan bisa membuat anak terhipnosis dengan mudah. Anda juga bisa menggubah syair lagu yang familiar dengan kalimat yang menggugah semangat anak melakukan sesuatu atau meningkatkan rasa percaya dirinya.
* Mendongeng bisa menjadi metode hipnosis yang juga efektif. Pilihlah cerita dongeng yang sarat hikmah dan memotivasi. Anda juga bebas berkreasi menciptakan cerita menarik yang disajikan atraktif.
* Saat anak belajar ia sedang fokus akan sesuatu, inilah waktu tepat memberikannya sugesti dengan suara lembut dan nada rendah.

Alat bantu

Untuk membantu Anda mensugesti anak secara positif, gunakan alat bantu berupa benda yang familiar dengannya. Alat bantu berfungsi sebagai pusat konsentrasi anak dan pelengkap sugesti. Anda bisa menggunakan alat bantu seperti boneka kesayangan, mainan lego warna-warni, alat gambar, kaset atau CD lagu anak, bola karet, boneka tangan, permainan jari tangan, dan lainnya. Dengan alat bantu ini, anak menjadi lebih tenang, nyaman dan tidak tertekan. Biarkan anak bermain dengan alat permainan kesukaannya, perlahan Anda bercerita sambil melibatkan benda-benda tersebut untuk memberikannya sugesti.

Naskah sugesti

Naskah sugesti tak harus selalu digunakan, namun merupakan salah satu penentu keberhasilan HypnoParenting. Saat membuat naskah, perhatikan bahasa dan pemilihan kata. Setiap orangtua dapat membuat sendiri naskah sugesti sesuai kebutuhan.

Berikut saran yang diberikan Dr Dewi:
1. Gunakan bahasa yang lekat dengan keseharian anak dan sesuai usianya.
2. Lakukan pengulangan kalimat agar tertanam dalam pikiran bawah sadar.
3. Gunakan nama panggilan kesayangannya saat menyapanya.
4. Jangan gunakan kata negatif seperti "Tidak", "Bukan", "Jangan". Kata-kata negatif ini tidak bisa diterjemahkan oleh pikiran bawah sadar.
kompas.com

TIPS SUKSES MENDIDIK ANAK DENGAN HYPNOPARENTING, Kiat Mempraktikkan HypnoParenting, Hipnosis Anak, Hypnoparenting, Tips Mendidik Anak, Langkah-langkah Menghipnosis Anak, Metode Mendidik Anak, Cara Menerapkan Hypnoparenting Pada Anak, Waktu Efektif Menerapkan Hypnoparenting

Monday, July 11, 2011

STANDAR PEMBELAJARAN Standar Pelaksanaan Pembelajaran | Proses Pembelajaran Efektif

STANDAR PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK Standar Pembelajaran | Standar Pelaksanaan Proses Pembelajaran | Persyaratan Pembelajaran

A. Persyaratan Pelaksanaan Proses Pembelajaran
1. Rombongan belajar

Jumlah maksimal peserta didik setiap rombongan belajar adalah:

a. SD/MI : 28 peserta didik
b. SMP/MT : 32 peserta didik
c. SMA/MA : 32 peserta didik
d. SMK/MAK : 32 peserta didik

2. Beban kerja minimal guru

a. beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan;

b. beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.

3. Buku teks pelajaran

a. buku teks pelajaran yang akan digunakan oleh sekolah/madrasah dipilih melalui rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah dari buku buku teks pelajaran yang ditetapkan oleh Menteri;

b. rasio buku teks pelajaran untuk peserta didik adalah 1 : 1 per mata pelajaran;

c. selain buku teks pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya;

d. guru membiasakan peserta didik menggunakan buku-buku dan sumber belajar lain yang ada di perpustakaan sekolah/madrasah.

4. Pengelolaan kelas

a. guru mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan
mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan;

b. volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik;

c. tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik;

d. guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik;

e. guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan
kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran;

f. guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung;

g. guru menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan status sosial ekonomi;

h. guru menghargai pendapat peserta didik;

i. guru memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi;

j. pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran yang diampunya; dan

k. guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

B. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

1. Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;

c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;

d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

2. Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.

a. Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

b. Elaborasi

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;

2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lainlain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;

4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

6) memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

7) memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

8 ) memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

9) memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

c. Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

3) memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

4) memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

a) berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengar menggunakan bahasa yang baku dan benar;

b) membantu menyelesaikan masalah;

c) memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;

d) memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;

e) memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

3. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

a. bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;

b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Sumber:

Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007

Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pembelajaran

Standar Pembelajaran, Proses Pembelajaran, Standar Proses Pembelajaran, Standar Pelaksanaan Proses Pembelajaran, Persyaratan Pembelajaran, Pembelajaran Efektif, Peserta Didik

Tuesday, May 17, 2011

TIPS MENDIDIK ANAK Cara Mendidik Anak Yang Efektif | Kiat Orang Tua Mendidik Anak

FREE DOWNLOAD TIPS MENDIDIK ANAK GRATIS Tips Mendidika Anak Cara Mendidik Anak | Tips Orang Tua Mendidik Anak | 10 Kesalahan Mendidik Anak Yang Perlu Diketahui


Bila Anda berpikir apakah Anda adalah orang tua yang teladan ? Maka jawaban Anda, pasti tentu saja saya orang tua teladan bagi anak saya. Mana ada sih “Harimau yang memakan anaknya sendiri”, atau mungkin mana mungkin sih kita mencelakakan anak kita sendiri. Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Kenyataannya banyak orang tua yang melakukan kesalahan dalam mendidik putra-putrinya.

Tips Mendidik Anak


Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang mungkin Anda tidak sadari terjadi dalam mendidik anak Anda :

1. Kurang Pengawasan
Menurut Professor Robert Billingham, Human Development and Family Studies – Universitas Indiana, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu diluar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”. Nah sekarang tahu kan, bagaimana menyiasatinya, misalnya bila anak Anda berada di penitipan atau sekolah, usahakan mengunjunginya secara berkala dan tidak terencana. Bila pengawasan Anda jadi berkurang, solusinya carilah tempat penitipan lainnya. Jangan biarkan anak Anda berkelana sendirian. Anak Anda butuh perhatian.

2. Gagal Mendengarkan
Menurut psikolog Charles Fay, Ph.D. “Banyak orang tua terlalu lelah memberikan perhatian – cenderung mengabaikan apa yang anak mereka ungkapkan”, contohnya Aisyah pulang dengan mata yang lembam, umumnya orang tua lantas langsung menanggapi hal tersebut secara berlebihan, menduga-duga si anak terkena bola, atau berkelahi dengan temannya. Faktanya, orang tua tidak tahu apa yang terjadi hingga anak sendirilah yang menceritakannya.

3. Jarang Bertemu Muka
Menurut Billingham, orang tua seharusnya membiarkan anak melakukan kesalahan, biarkan anak belajar dari kesalahan agar tidak terulang kesalahan yang sama. Bantulah anak untuk mengatasi masalahnya sendiri, tetapi jangan mengambil keuntungan demi kepentingan Anda.

4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, “banyak orang tua menghabiskan 100 km per jam mengeringkan rambut, dari pada meluangkan 1 jam bersama anak mereka”. Anak perlu waktu sendiri untuk merasakan kebosanan, sebab hal itu akan memacu anak memunculkan kreatifitas tumbuh.

5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater Sara B. Miller, Ph.D., perilaku yang paling berpengaruh merusak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang tua bertengkar didepan anak mereka, khususnya anak lelaki, maka hasilnya adalah seorang calon pria dewasa yang tidak sensitif yang tidak dapat berhubungan dengan wanita secara sehat. Orang tua seharusnya menghangatkan diskusi diantara mereka, tanpa anak-anak disekitar mereka. Wajar saja bila orang tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.

6. Tidak Konsisten
Anak perlu merasa bahwa orang tua mereka berperan. Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa dihadapan anak.
7. Mengabaikan Kata Hati
Menurut Lisa Balch, ibu dua orang anak, “lakukan saja sesuai dengan kata hatimu dan biarkan mengalir tanpa mengabaikan juga suara-suara disekitarnya yang melemahkan. Saya banyak belajar bahwa orang tua seharusnya mempunyai kepekaan yang tajam tentang sesuatu”.

8. Terlalu Banyak Nonton TV
Menurut Neilsen Media Research, anak-anak Amerika yang berusia 2-11 tahun menonton 3 jam dan 22 menit siaran TV sehari. Menonton televisi akan membuat anak malas belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak berlama-lama didepan TV dibanding mengganggu aktifitas orang tua. Orang tua sangat tidak mungkin dapat memfilter masuknya iklan negatif yang tidak mendidik.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Menurut Louis Hodgson, ibu 4 anak dan nenek 6 cucu, “anak sekarang mempunyai banyak benda untuk dikoleksi”. Tidaklah salah memanjakan anak dengan mainan dan liburan yang mewah. Tetapi yang seharusnya disadari adalah anak Anda membutuhkan quality time bersama orang tua mereka. Mereka cenderung ingin didengarkan dibandingkan diberi sesuatu dan diam.

10. Bersikap Berat Sebelah
Beberapa orang tua kadang lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil menjelekkan pasangannya didepan anak. Mereka akan hilang persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap berat sebelah. Luangkan waktu bersama anak minimal 10 menit disela kesibukan Anda. Dan pastikan anak tahu saat bersama orang tua adalah waktu yang tidak dapat diinterupsi.

http://www.isdaryanto.com/10-kesalahan-mendidik-anak

PREDIKSI GEMPA JAKARTA 2011 Ramalan Gempa Jakarta Potensi Kerusakan (Ramalan Terbaru)

related tags:

tips mendidik anak, cara orang tua mendidik anak baik dan benar, tips mendidik anak yang efektif, tips pendidikan keluarga, kiat mendidik anak, tips orang tua didik anak

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...